
Love Amongst The Ruins: A New Bond at Borobudur
FluentFiction - Indonesian
Loading audio...
Love Amongst The Ruins: A New Bond at Borobudur
Sign in for Premium Access
Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.
Di bawah langit biru cerah dan udaranya yang hangat, Candi Borobudur berdiri megah.
Under the bright blue sky and warm air, Candi Borobudur stood majestically.
Hari itu, candi penuh dengan pengunjung dan sukarelawan yang bekerja meramaikan acara peringatan Hari Kesaktian Pancasila.
That day, the temple was filled with visitors and volunteers busy with the commemoration event for Hari Kesaktian Pancasila.
Di salah satu sudut candi, Rizky dan Ayu sibuk dengan tugas masing-masing.
In one corner of the temple, Rizky and Ayu were busy with their respective tasks.
Rizky, lelaki muda dengan mata berbinar penuh antusias terhadap sejarah Indonesia, mengamati ukiran di candi, meresapi setiap cerita yang terukir di sana.
Rizky, a young man with eyes sparkling with enthusiasm for Indonesian history, observed the carvings on the temple, absorbing every story engraved there.
Di sisi lain, Ayu, dengan mata tajam dan senyumnya yang hangat, menjelaskan kepada pengunjung mengenai cerita di balik ukiran-ukiran tersebut.
On the other hand, Ayu, with sharp eyes and a warm smile explained to visitors the stories behind those carvings.
Ayu adalah lulusan sastra yang ingin menggali lebih dalam tentang penceritaan melalui relief di candi.
Ayu is a literature graduate who wants to delve deeper into storytelling through the temple's reliefs.
Ketika mata mereka bertemu sekejap, ada percikan rasa penasaran yang muncul di antara mereka, meskipun Rizky terlalu malu untuk mendekat.
When their eyes met briefly, a spark of curiosity arose between them, though Rizky was too shy to approach.
Dimas, sahabat sukarelawan mereka, adalah seorang pemuda yang ingin keliling dunia, mencari teman dengan hobi yang sama.
Dimas, their volunteer friend, is a young man who wants to travel the world, looking for friends with similar hobbies.
Dimas melihat gelagat Rizky dan dengan senyum nakal, mendorongnya untuk mengobrol dengan Ayu setelah tugas selesai.
Dimas noticed Rizky's behavior and with a cheeky smile, encouraged him to talk to Ayu after their tasks were over.
Waktu berlalu, matahari mulai turun.
Time passed, and the sun began to set.
Saat giliran mereka berakhir, Rizky beranikan diri untuk bertemu Ayu.
As their shift ended, Rizky gathered the courage to meet Ayu.
Namun, saat dia mendekat, Rizky tidak sengaja menabrak Ayu, menjatuhkan beberapa lembar kertas dari tangan Ayu.
However, as he approached, Rizky accidentally bumped into Ayu, causing some papers to fall from Ayu's hands.
Mereka sama-sama terkejut, dan kemudian tertawa bersama-sama.
They both were startled, and then laughed together.
“Maaf, aku tidak sengaja!” seru Rizky sambil membantu mengumpulkan kertas-kertas itu.
“Sorry, I didn't mean to!” exclaimed Rizky while helping to gather the papers.
Ayu tersenyum, “Tidak apa-apa, ini juga salahku yang tidak melihat.”
Ayu smiled, “It's okay, it's my fault too for not looking.”
Obrolan pun berlanjut.
Their conversation continued.
Mereka berbagi cerita tentang kegemaran masing-masing terhadap sejarah dan sastra.
They shared stories about their interests in history and literature.
Rizky akhirnya mengundang Ayu untuk bergabung dalam kelompok diskusi tentang pelestarian sejarah, sesuatu yang sangat menarik minat Ayu.
Rizky eventually invited Ayu to join a discussion group on historical preservation, something that greatly intrigued Ayu.
Saat mereka menukar nomor kontak, Rizky merasa percaya diri.
As they exchanged contact numbers, Rizky felt confident.
Dia menyadari pentingnya mengambil risiko kecil untuk menjalin hubungan.
He realized the importance of taking small risks in building relationships.
Ayu pun tersenyum, merasa bahwa dia bisa menyeimbangkan karier dan kehidupan sosialnya dengan berbagi minat yang sama.
Ayu smiled, feeling that she could balance her career and social life by sharing similar interests.
Mereka sepakat untuk bertemu lagi, tidak hanya di kelompok diskusi, tetapi juga di berbagai acara budaya lainnya.
They agreed to meet again, not just in the discussion group but also at various cultural events.
Sore itu, Borobudur menjadi saksi awal dari ikatan baru.
That afternoon, Borobudur became a witness to the beginning of a new bond.
Candi yang penuh cerita berabad-abad itu, kini menjadi bagian dari cerita baru dua anak muda yang berbagi cinta terhadap sejarah dan seni.
The temple, full of centuries-old stories, now became part of a new story of two young people sharing a love for history and art.